Sabtu, 19 November 2011

TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rector
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa
takut ’66, takut ‘98


(Taufik Ismail, 1998)

ANAK YANG ANGKUH

Betapa dinginnya air sungai,
Dinginnya! dinginnya!
Betapa dinginnya daging duka
Yang membaluti tulang-tulangku.

Hai, anak!
Jangan bersandar juga di pohonan.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Di luar angin menari putar-putar).
Si anak meraba punggung dan pantatnya
(Pukulan si bapak menimbulkan dendam).

Masih terlalu kecil ia
digembungkannya dadanya kecil
diangkatnya tinjunya kecil.
Amboi! Si jagoan kecil
menyusuri sungai darah.

Hai, anak!
Bara di matamu dihembusi angin.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!

(Daun-daun kecil pada gugur
dan jatuh atas rambutnya.
Si anak di jalan tolak pinggang.
Si jantan kecil dan angkuh).

Amboi, ingusnya masih juga!
Mengapa lelaki harus angkuh
minum dari puji dan rasa tinggi
dihangati darah yang kotor?

Hai, anak!
Darah ayam adalah di ototmu
Senyumlah dan ayahmu akan lunak
Di dada ini tak ada jagoan selain kau.

Dan satu senyum tak akan mengkhianati kata darah.
Masuklah, anak!
Di luar betapa dinginnya!
(Dengan langit sutra hitam
dan ranting patah di kakinya
si anak membusung tolak pinggang
kepala tegak dan betapa angkuhnya!)


(W. S. Rendra), Balada Orang-orang tercinta, Pustak Jaya, Jakarta, 1971

SIAPA

kubuka jendela taman berjalan
di antara pohonan sungai menjalar
kusampaikan serapah kemenyan luka
buaya terbang menggigit sisa
ku tak ingin indah eloknya rupa
paras sungai ambillah kalian
aku menyelam di kediaman batu
apalah diri kalau tak duri
menikam nikam di dalam diam

siapa bernyanyi? entahlah! siapa tahu? tak tahulah! apa yang baku?
kalau tak kamu! mengapa rindu? kalau tak batu! diancuk
nyeri badan bergoyang. siapa sayang kalau tak malang

kurentang tangan di atas pohonan
burung menari di jemari darah
mengalir hari di pembuluh matari
mengalir badan di kediaman bulan

kekasih telukmu dalam
batang ampas jiwa terkurung
merpati sayapmu jadi
langit tak sampai sehari hari

meski kutahu maunya abad
aku bercakap kenyerian saat

siapa tegang? kelamin zaman. Mengapa hari? kurancap siang!
apa yang hebat? jembut duka. mengapa rapat? nyerinya saat!
ha ha ha ha jarum berserabut dalam mulut tawa kembalikan ke
abadian kata kudaku. kekasih telukmu dalam kapalku sampai
pelabuhan. merpati sayapmu jadi langit tak sampai sehari hari

siapa tenggangngngngngng……


(Sutardji Calzoum Bachri, 1979, KAPAK)

BATU

batu mawar
batu langitbatu
dukabatu rindu
batu jarum
batu bisukaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai sedang
lambai tak sampai. Kau tahu?

batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
                                                          yang
          tak menepati
          janji?


(Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, 1981)

Senin, 14 November 2011

DI POJOK

Di pojok
aku mabuk aqua
sambil melihat sebotol wiski
tak berkutik
kembung tak
berdaya


Balek S, 10-11 November 2011

DEWA TELAH MATI


Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengintari bangkai
Pertapa yang tebunuh dekat kuil

Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut
Pelacur yang tersenyum dengan bayang sendiri

Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari


(Subagio Sastrawardojo)

Rabu, 02 November 2011

DI MASJID

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkanya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang.
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila


(Chairil Anwar, 29 Mei 1943)

DENGAN PUISI AKU

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya



(Taufik Ismail, 1965, Tirani dan Benteng, hlm. 62)