Kamis, 18 Agustus 2011

BERI AKU

Beri aku setangkai bunga
Beri aku seikat cinta

Beri aku segudang rindu

Beri aku sepikul sepi
Beri aku sebilah sunyi

Beri aku secuil malu

Beri aku sediam diam
Beri aku seruas jalan

Beri aku sebebas waktu

Beri aku seringan dosa
Beri aku seberat pahala

Beri aku seindah ibadah
Beri aku sekuat tabah

Beri aku sedalam doa
Beri aku seikhlas tobat

Beri aku sepatah kata
Beri aku sejuta maaf


Balek S, Agustus 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

TENDA BIRU, TENDA PEMBUANGAN

Ada tenda biru di depan sana
Tenda pembuangan

Ada tenda biru di depan sana
Di depan rumah di tengah-tengah sawah
Tenda pembuangan

Ada tenda biru di depan sana
Sudah tua
Tenda pembuangan

Ada tenda biru di depan sana
Sudah lama tak terlihat
Tenda pembuangan

Ada tenda biru di depan sana
Eh...! Salah
itu gerobak
Ada tenda biru di depan sana
Eh...! Kok hilang
Ada tenda biru di depan sana
Eh...! Sudah rubuh


Balek S, 31 Juli 2011

RUMPUT-RUMPUT TAK BERSALAH

Rumput tak bersalah
dibabat habis
tak bersisa
Katanya: "Hanya menghalangi
jalan."

Bukit rubuh
runtuh menimpa lembah
Dua ribu hektar tanah
atas bawah
mulutnya menganga
saling menyalahkan
Siapa yang salah?


Balek S, 31 Juli 2011

SEPI TELAH BASI

Yang telah hilang
dari peredaran. Aku
Semakin ke dalam
semakin jauh di sana
semakin aku tenggelam

Malam ini
ku berjalan ke luar
tuk mencari angin segar
Berjalan ke kota
ku sapa kota
Bergeming tak
bersua
Hanya sepi yang
menyapa jiwa

Sepi ini
telah basi
berganti
takut mati

Dingin
pelan-pelan
menyekap
dalam gelap
tak meninggalkan
bekas jerat

Luka mulai
gerah
susah
resah
mendesah

Rindu ini
mengais tanah
basah
oleh darah salah

Mencari sesuatu yang terpendam


Balek S, Juli 2011

GELORA

Cemburu ini
terbakar
menyala
membara

Tapi hati
dingin
membeku
membatu

Perasaan
terpendam
tertimbun
angin malam

Gejolak jiwa
masih lagi
tak terhenti
belum mati


Balek S, Juli 2011

WAHAI!

Lihatlah ke luar wahai bulan!
aku masih merindukanmu
Berjalanlah ke luar wahai angin!
aku masih membutuhkanmu

Lihatlah ke atas wahai tanah!
masih ada langit di sana
Lihatlah ke bawah wahai langit!
masih ada tanah di situ
Lihatlah ke kiri wahai matahari!
masih ada awan di sebelahmu
Lihatlah ke kanan wahai awan!
masih ada matahari di dekatmu

Lihatlah aku wahai dunia!
masih ada aku di sini
Lihatlah dunia wahai aku!
masih ada dunia luas dan bebas


Balek S, Mei-Juli 2011

KOTAKU DULU

Aku muak!
Terkepung oleh asap-asap keramaian
Tercemar oleh debu-debu perkotaan
Buntu oleh sekat-sekat pemikiran

Aku muak! Dengan
Omongan-omongan bisu
Pemikiran-pemikiran terbelenggu
Perbuatan-perbuatan tak terlaku

Aku mulai rabun waktu
Aku sudah buta arah

Lihatlah! Kau kini
Nafasmu yang masih selemah dulu
Tapi dirimu
semodern kini
Sedang aku terlalu kuno sekali

Aku rindu kamu yang dulu
Pandanganmu yang seteduh beringin
Belaianmu yang selembut angin
Gaya bicaranu yang sejernih sungai mengalir


Balek S, April-Juli 2011

PUISI PICISAN

Hujan
mengguyur deras sore hari
Di lahan
rumput tak juga menjadi pohon jati

Angin petang
bertiup kencang malam ini
Rumput malang
tetap bertahan dari mati

Aku bukan sastrawan
Aku juga bukan seniman
Tetapi aku akan tetap berkarya
Seperti kalian
Jangan terlalu anggap remeh!

Ini hanya sebuah puisi picisan
yang dibuat oleh orang rendahan
Meski saat ini tak berguna
mungkin suatu saat akan terbaca


Balek S, April-Juli 2011

HILANG DAYA

Emosi yang meluap-luap
Semangat yang membara
yang aku miliki tadi pagi
telah pergi
Sekarang sore hari

Habis
kikis
sudah

Cahayaku perlahan-lahan mulai redup
Sebelum akhirnya padam

Aku ingin bertarung
dengan mereka-mereka yg masih muda
Sedang aku sendiri sudah terlalu tua
Aku kini hilang daya
Aku semakin rapuh



Balek S, April-Juli 2011

APALAH AKU?

Andai aku bisa memutar waktu
akan ku ukir namaku dalam sejarah
Andai aku bisa membalikkan waktu
akan ku injakkan kaki ku ke penjuru dunia

Andai aku masih bisa kembali
Tak kan ku ulangi sandiwara gila
Jika aku masih bernafas pagi nanti
Akan ku hisap semua hawa
Jika aku masih melihat esok hari
Akan ku lihat semua warna

Aku kehabisan kata-kata
Pikiranku telah kering
Aku tak lagi merasa
Hatiku telah membatu
Tapi, apalah aku?
Kini aku
hanya tulang-tulang tak bergerak

Aku tak kuat
menanggung beban
Apalah aku?
Ini adalah kuasa Mu

Di depan Mu
Aku ini lemah
Di hadapan Mu
Aku penuh salah
Apalah aku?
Aku ini hanya tulang-tulang berkarat
Yang akan lapuk oleh waktu
dan lekang oleh zaman
dan akan menjadi debu-debu bertaburan



Balek S, Februari-Juli 2011