Part I
Siang
itu, kira-kira sekitar jam setengah satu tepatnya, seorang pemuda
berjalan dengan langkah gontai menyusuri sebuah gang. Di tangan kanannya
membawa sebuah stopmap warna biru. Memakai kemeja dan celana bahan,
tetapi penampilannya sudah agak sedikit acak-acakan. Jika dilihat dari
penampilannya saat ini sepertinya dia sedang mangalami hal-hal yang
tidak diinginkan. Ya, benar! Sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi
padanya. Dia hari ini telah melamar ke tiga perusahaan, dan ia ditolak
saat itu pula.
Tiga
ratus meter sudah ia berjalan dengan langkah gontai dan wajah lesu. Di
depan ada sebuah pohon dan dibawahnya sebuah bangku berukuran sedang.
Pemuda tersebut duduk pada bangku itu, sambil sesekali mengelap keringat
di lehernya. Tepat di samping pohon itu
sebuah warung berdiri. Ukurannnya sedang. Kayunya sudah mulai
menghitam. Cat tembok mulai mengelupas. Sepertinya warung tersebut
sudah bertahun-tahun berdiri di situ. Dua atau tiga pembeli ada di sana.
Tidak terlalu rame saat ini. Pemuda itu merogoh kantong saku celananya.
Dia mengeluarkan satu lembar lima ribuan dan beberapa lembar ribuan.
“Huft, uang ini cuma cukup untuk perjalanan pulang saja.”
“Huft, uang ini cuma cukup untuk perjalanan pulang saja.”
........................(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar